hindari flexing etika bermedsos jemaah haji
Hindari Flexing dan Konten Negatif, Jemaah Diimbau Jaga Etika Bermedsos Saat Ibadah Haji
JAKARTA – Pemerintah kembali mengingatkan jemaah dan petugas haji Indonesia untuk lebih bijak dan beretika dalam menggunakan media sosial selama menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. dilansir HIMPUH Aktivitas digital yang dilakukan jemaah tidak lagi dipandang sebagai urusan personal semata, tetapi juga memiliki dampak luas terhadap citra penyelenggaraan ibadah haji Indonesia di mata publik nasional maupun otoritas Arab Saudi.

Imbauan ini disampaikan seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan jemaah haji. Dokumentasi berupa foto, video, hingga siaran langsung kerap dilakukan sebagai bentuk berbagi pengalaman spiritual. Namun, tanpa disadari, unggahan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi keliru, memicu kegaduhan, bahkan melanggar aturan yang berlaku di Arab Saudi.
Aktivitas Digital Jadi Perhatian Serius Pemerintah
Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia menegaskan bahwa literasi digital dan etika bermedia sosial kini menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan ibadah haji. Tenaga Ahli Bidang Media Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha, menyampaikan bahwa setiap unggahan jemaah maupun petugas dapat membentuk opini publik terhadap kualitas layanan haji Indonesia.
“Media sosial saat ini menjadi salah satu indikator bagaimana penyelenggaraan haji kita dinilai. Apa yang diposting petugas maupun jemaah akan mencerminkan wajah Indonesia di Tanah Suci,” ujar Ichsan saat memberikan materi dalam Diklat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Jakarta, Jumat (16/1/2026) malam.
Menurutnya, konten yang tidak disertai konteks yang jelas sering kali menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Hal ini dapat berdampak pada munculnya kritik, spekulasi, hingga penilaian negatif terhadap penyelenggaraan haji secara keseluruhan.
Perbedaan Regulasi Media Sosial di Arab Saudi
Ichsan menekankan bahwa jemaah dan petugas haji perlu memahami adanya perbedaan norma, budaya, dan regulasi antara Indonesia dan Arab Saudi. Apa yang dianggap wajar di Indonesia belum tentu dapat diterima di Tanah Suci.
“Ada norma dan aturan yang harus menjadi perhatian bersama. Petugas dan jemaah harus benar-benar mempertimbangkan sebelum mengunggah konten apapun agar tidak menimbulkan kegaduhan atau masalah,” jelasnya.
Ia mencontohkan unggahan foto atau video jemaah yang terlihat menunggu di depan hotel. Tanpa penjelasan yang memadai, konten tersebut kerap ditafsirkan publik sebagai indikasi jemaah terlantar, padahal situasi di lapangan bisa saja sudah tertangani dengan baik.
“Konten tanpa konteks sering memicu persepsi keliru. Ini yang perlu dihindari karena dapat merugikan banyak pihak,” tegasnya.
Larangan Konten Negatif dan Flexing
Selain soal konteks, pemerintah juga mengingatkan adanya larangan tegas dari otoritas Arab Saudi terkait unggahan yang bersifat negatif, menghina pihak lain, atau menampilkan pamer kemewahan (flexing). Aturan ini berlaku untuk seluruh individu yang berada di wilayah Arab Saudi, termasuk jemaah dan petugas haji Indonesia.
“Menjaga etika tidak hanya dalam pelayanan dan ibadah, tetapi juga dalam mempublikasikan sesuatu di media sosial. Hal ini terus kami sampaikan kepada jemaah sejak proses manasik,” kata Ichsan.
Flexing dinilai tidak sejalan dengan esensi ibadah haji yang menekankan kesederhanaan, kesetaraan, dan kekhusyukan. Selain berpotensi melanggar aturan setempat, konten semacam ini juga dapat mengurangi nilai spiritual dari ibadah itu sendiri.
Kanal Kawal Haji sebagai Solusi Pengaduan
Untuk mengantisipasi berbagai dinamika di lapangan, Kementerian Haji dan Umrah menyediakan kanal resmi pengaduan bernama Kawal Haji. Kanal ini dapat dimanfaatkan oleh jemaah maupun masyarakat untuk melaporkan persoalan layanan atau konten media sosial yang berpotensi menimbulkan kegaduhan.
Baca Juga! : Tawaf Wada : Amalan Perpisahan Jemaah Haji Sebelum Tinggalkan Makkah
“Melalui kanal Kawal Haji, berbagai persoalan dapat diadukan secara resmi. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, kanal ini cukup efektif dalam membantu menyelesaikan dinamika penyelenggaraan haji,” ujar Ichsan.
Dengan adanya kanal ini, pemerintah berharap jemaah tidak langsung meluapkan keluhan di media sosial, melainkan menempuh jalur yang lebih tepat dan konstruktif.
Fokus Ibadah, Kurangi Dokumentasi Berlebihan
Terkait dokumentasi foto dan video, Ichsan mengungkapkan bahwa otoritas Arab Saudi kembali mengingatkan larangan pendokumentasian berlebihan, terutama di area Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga ketertiban, keamanan, serta kekhusyukan ibadah seluruh jemaah.
“Pesan utama dari Arab Saudi adalah agar jemaah memaksimalkan momentum haji sebagai ibadah paripurna. Hindari aktivitas yang tidak berbanding lurus dengan kualitas ibadah,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa selama musim haji, pengaturan di Tanah Suci memang jauh lebih ketat dibanding hari biasa. Hal ini dilakukan demi menjaga kenyamanan jutaan jemaah dari berbagai negara.
“Sanksi yang diberikan umumnya bersifat preventif berupa teguran. Namun tetap perlu disikapi serius agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar,” tambahnya.
Literasi Digital Jadi Bekal Penting Jemaah Haji
Pemerintah terus mendorong peningkatan literasi digital bagi jemaah haji Indonesia. Edukasi ini tidak hanya mencakup penggunaan media sosial yang bijak, tetapi juga pemahaman akan dampak unggahan digital terhadap diri sendiri, jemaah lain, dan citra bangsa.
“Kami terus mensosialisasikan literasi digital kepada jemaah agar mereka benar-benar cermat dan bertanggung jawab dalam bermedia sosial selama berada di Tanah Suci,” pungkas Ichsan.
Dengan etika bermedia sosial yang baik, diharapkan ibadah haji dapat berlangsung lebih khusyuk, aman, dan memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi setiap jemaah.
Pilih Penyelenggara Haji yang Mengedepankan Edukasi dan Etika
Bagi calon jemaah, memilih penyelenggara haji yang berpengalaman dan berkomitmen terhadap pembinaan jemaah menjadi hal yang sangat penting. Edukasi tidak hanya soal manasik dan teknis ibadah, tetapi juga mencakup pemahaman etika, termasuk etika bermedia sosial di Tanah Suci.
Khazzannah Tours & Travel hadir sebagai penyelenggara Haji Khusus yang tidak hanya fokus pada pelayanan dan kenyamanan, tetapi juga pembinaan jemaah secara menyeluruh. Mulai dari manasik, pendampingan ibadah, hingga literasi digital dan etika selama berada di Arab Saudi.
? Ingin menjalankan ibadah haji dengan tenang, tertib, dan penuh kekhusyukan?
Segera daftarkan diri Anda untuk program Haji Khusus bersama Khazzannah Tours & Travel dan dapatkan pendampingan profesional dari tim berpengalaman sejak persiapan hingga kepulangan ke Tanah Air.
